Home >> Berita LDII Surabaya >> FKUB Surabaya Mengajak Masyarakat Memahami Perbedaan

FKUB Surabaya Mengajak Masyarakat Memahami Perbedaan

ldii-fkubDialog Wanita Lintas Agama. Setelah menggelar seminar lintas agama bulan April yang lalu. Kali ini giliran tokoh-tokoh perempuan Surabaya mendapatkan kesempatan untuk saling bersilahturahim dengan tokoh—tokoh berbagai lintas agama. Sabtu (4/5/2013) Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) kota Surabaya menggelar dialog wanita lintas agama yang bertemakan “Wanita Lintas Agama Sebagai Salah Satu Pilar Keutuhan Kerukunan Umat Beragama” yang bertempat di Pura Agung Jagad Kirana, jalan Lumba-lumba No. 1 Perak, Surabaya. Dialog tersebut dihadiri sekitar 90 peserta wanita yang terdiri dari berbagai lintas agama (Islam, Kristen, Hindhu, Budha, Katholik dan Konghucu), yang mana LDII juga termasuk dalam undangan tersebut yang diwakili oleh tiga tokoh wanita DPD LDII kota Surabaya, yakni Hj. Endah Retnowati, Dewi Ratih Ratnasari S.S, Sovia Sahid S. Psi

Dialog ini dibuka oleh Sekretaris FKUB Surabaya Drs. Andi Hariadi, MPD.I. Isi sambutan beliau menjelaskan maksud dan tujuan diselenggarakannya dialog ini yaitu membangun komunikasi dan silahturahim sekaligus mempererat persaudaraan dan kerukunan antar umat beragama terutama bagi warga kota Surabaya.

Meski wali kota Surabaya berhalangan hadir dalam acara tersebut, sambutan wali kota disampaikan oleh kepala Bakesbangpollinmas kota Surabaya Soemarno, SH. Dalam sambutannya menuturkan bahwa bangsa Indonesia yang saat ini sedang proses berkembang ke arah demokrasi membutuhkan rasa persatuan dan kesatuan yang cukup tinggi dari berbagai pihak, terutama tokoh antar umat beragama sehingga diharapkan menjadi wadah inspirasi masyarakat. Maka dialog ini membangun kebersamaan komunikasi antar wanita lintas agama, karena wanita merupakan fondasi negara yang menentukan masa depan bangsa, yang melahirkan generasi yang berkomitmen dan bertanggung jawab. Wanita juga merupakan sosok yang penting dalam sebuah lingkungan yang kecil yaitu keluarga. “Harapannya kepada tokoh-tokoh agama dan masyarakat terutama kaum wanita bisa mengejawantahkan kota Surabaya menjadi idaman dibandingkan kota-kota lain dikarenakan kota Surabaya penuh kedamaian dan kesejukan,” ungkap Soemarno.

Narasumber yang dihadirkan dalam dialog tersebut diantaranya dari dosen Teknik Sipil ITS Putu Tantri Kumalasari (perwakilan dari agama Hindhu) dan Leni Guwito, S.E. (perwakilan Rumah Ibadah BOEN BIO-Surabaya) selaku Kepala Biro Pendidikan MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) Provinsi Jawa Timur, serta didampingi moderator perwakilan dari agama Budha.

ldii-hinduDalam materi pertama yang disampaikan oleh narasumber, Putu Tantri membahas perihal peningkatan peran perempuan dalam penciptaan kerukunan beragama. “Walaupun belum bisa berkontribusi kepada dunia, setidaknya wanita Indonesia mampu memberikan kontribusinya dimulai dari lingkungan yang paling kecil yaitu keluarga dan masyarakat,” ujar Putu Tantri. Selain itu Leni Guwitto juga menyinggung mengenai peran wanita lintas agama, yakni yang pertama sebagai pribadi yang berkualitas, kedua sebagai istri yang tangguh, dan ketiga sebagai ibu yang teladan, bukan hanya sebagai mesin produksi, dalam arti seorang ibu tidak hanya bisa melahirkan saja, tetapi juga dapat mendidik anak-anaknya baik secara lahiriah maupun batiniah.

Di akhir acara ditutup oleh moderator dengan menekankan bahwa meski kita semua berbeda, tapi dengan memahami perbedaan itu menghasilkan sesuatu yang indah. Indah itu harmonis, dan harmonis itu damai yang membawa kita pada ketenangan dan kebahagiaan bagi kita semua.

Other articles you might like;

Check Also

Gebyar Kemerdekaan, Puncak Peringatan HUT RI ke-72 di Tanah Merah

Memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72, warga RW IX Tanah Merah, Kelurahan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *